hello world!
Published: April 22, 2022

Food loss dan Food waste di Indonesia

Indonesia dinobatkan sebagai Negara dengan Pembuangan Makanan Terbesar ke-2 di Dunia oleh FAO Indonesia 2016 dan The Economist Intelligence Unit 2016. Kementerian PPN/Bappenas memperkirakan timbulan FLW pada 2000-2019 mencapai 23-48 juta ton per tahun, setara 115-184 kg/kapita/tahun. Kontribusi besar terbuangnya makanan berasal dari hotel, restoran, katering, supermarket, dan rumah tangga, termasuk masyarakat yang gemar menyisakan makanan.

Apa itu Food loss dan food waste?

 Food loss adalah sampah makanan yang berasal dari bahan pangan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, atau makanan mentah yang sudah tidak bisa diolah kembali menjadi makanan dan harus dibuang. Biasanya seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan lain-lain.

Food waste adalah makanan yang telah diolah dan siap untuk dikonsumsi yang dibuang begitu saja.

Mengapa food loss terjadi?

Ada empat kemungkinan kebiasaan masyarakat yang membuat hal ini dapat terjadi.

1. Tidak menghabiskan makanan

2. Makan tidak sesuai dengan porsi

3. Membeli atau masak makanan yang tidak disukai

4. Gaya hidup

Food Loss dan Food Waste yang terjadi di Indonesia pun menyebabkan dampak negatif dalam yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, kerugian sosial serta dalam segi ekonomi.

Penyebab Terjadinya FLW (Food Loss dan Food Waste)

Annisa Ratna Putri (Team Leader Kajian Food Loss & Waste, Waste4Change), menyebutkan ada 5 penyebab besar terjadinya FLW, sebagai berikut.

1. Pertama, di bagian food loss, kurangnya food handling practice.

Kurang baik memperlakukan makanannya yaitu ketika makanan didistribusikan atau kurang baik ruang penyimpanannya.

Biasanya penyebab terjadinya kehilangan tersebut adalah kurangnya sarana dan pra-sarana produksi seperti kurangnya teknologi.

Teknologi yang dimaksud meliputi teknologi transportasi, rantai dingin (cold chain), dan lainnya yang bisa menyebabkan pangan jadi mudah rusak ataupun susut.

2. Kurangnya edukasi soal penyimpanan yang benar ke pekerja lapangan

Pekerja lapangan kurang paham sehingga cara nyimpan salah, perlakuan kurang baik terhadap makanan.

3. Preferensi konsumen yang menilai makanan hanya berdasar aspek sensori.

Berhubungan dengan kebiasan dan perilaku masyarakat (sebagai konsumen) dalam menilai dan menghargai pangan.

Konsumen seringkali menilai pangan hanya berdasarkan aspek sensori saja. 

Hanya mau makan atau membeli makanan yang terlihat bagus, seperti warna dan bentuknya. Sehingga jika ada produk yang bentuknya tidak sesuai dengan keinginan atau ekspektasinya seringkali produk tersebut disisihkan dan akhirnya terbuang.

Masyarakat juga tidak mau membeli makanan yang bentuknya berbeda dari yang biasa dia beli, padahal sebenarnya secara nutrisi sama saja. Akhirnya makanan ini engga kejual dan akhirnya kebuang karena konsumen tidak suka atau tidak mau beli.

4. Di rumah tangga, kurang memahami bagaimana seharusnya menyimpan makanan.

Seperti diketahui, tidak semua makanan itu bakal tahan lama kalau dimasukkan ke kulkas. Beberapa makanan tertentu justru makin cepat busuk atau berjamur jika di dalam kulkas.

5. Kelebihan porsi dan perilaku konsumen.

Adanya pemikiran atau bilai yang dianut seperti, “Lebih baik lebih banyak lah daripada kurang sehingga ketika ada acara atau makan bersama yang penting pesan dulu, urusan nanti kalau bersisa.”

Cara pikir ini harus dubah. Jika memang tidak sanggup dihabiskan, ya sebaiknya tidak dipesan sebanyak itu. Kalau memang bersisa sebaiknya selalu dibawa pulang untuk dikonsumsi kembali.

Join To Our News Letter

Yoshimi Shimizu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

PT Delco Jaya
Prime Space - Jl. Arteri Permata Hijau No.34, Grogol Utara, Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Indonesia 12210
Email : hello@kokikan.com